Yang Sering Gonta-ganti Pasangan Dilarang Donorkan Organ


img
(Foto: thinkstock)
Jakarta, Orang yang telah melakukan hubungan seks dengan dua pasangan atau lebih dalam setahun terakhir dapat dianggap sebagai donor organ yang berisiko. Demikian menurut usulan pedoman kesehatan baru di Amerika Serikat dan telah menuai protes tajam dari para ahli transplantasi.

Di bawah kebijakan baru yang diusulkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Amerika Serikat atau CDC, donor meninggal dan hidup yang telah berhubungan seks dengan lebih dari dua orang dalam 12 bulan dianggap berisiko menularkan HIV, hepatitis B dan hepatitis C, bahkan tanpa memperhitungkan faktor risiko lain.

"Ini ditujukan untuk pasien sehingga pasien tahu sebanyak mungkin mengenai organ yang ditransplantasikan di dalamnya," kata Dr. Matthew J. Kuehnert, direktur kantor CDC bagian Darah, Organ dan Keselamatan Jaringan Lainnya seperti dilansir MSN.com, Selasa (27/12/2011).

Tetapi para ahli transplantasi tidak setuju karena usulan tersebut dianggap sewenang-wenang berfokus pada monogami dan dapat membatasi jumlah donor yang tersedia dan jumlah penerima yang bersedia menerima organ baru yang diklasifikasikan berisiko.

Para ahli transplantasi khawatir bahwa donor hidup yang potensial dapat menolak menyumbang jika tahu sejarah seksualnya sendiri bisa menimbulkan pertanyaan tentang kecocokannya, terutama jika situasinya melibatkan seorang anggota keluarga.

"Jika hendak memberikan organ tubuh kepada ibu, ayah atau kakak dan mengakui riwayat seksual bisa jadi akan memalukan. Jadinya orang malah akan mengatakan tidak atau berbohong," kata Dr. Harry Dorn-Arias, seorang ahli bedah transplantasi di University of Virginia.

Kebijakan yang diusulkan juga dapat meminta keluarga donor yang telah meninggal untuk menjawab pertanyaan tidak nyaman tentang perilaku seksual dari orang yang dicintai, di mana mereka mungkin juga tidak tahu jawabannya.

"Kebijakan ini dapat menakut-nakuti pasien yang akan mendapat organ. Pasien lebih mungkin mati karena tidak mau menerima organ-organ ini," kata Tracy Giacoma, administrator transplantasi di Rumah Sakit University of Kansas.

Lebih dari 28.000 organ ditransplantasikan setiap tahun, tetapi lebih dari 112.000 orang berada dalam daftar tunggu organ, menurut Organ Procurement and Transplantation Network di Amerika Serikat.

Pedoman ini dapat mempengaruhi keluasan donor potensial, khususnya orang muda. Menurut laporan National Center for Health Statistics tahun 2006-2008, sekitar seperempat wanita dan hampir 30 persen pria berusia 20-24 tahun di Amerika Serikta mengaku bahwa mereka memiliki dua atau lebih pasangan seksual dalam 12 bulan terakhir.

"Ketika terjadi kematian yang tragis, maka justru mereka lah orang yang harus menyumbangkan organnya jika memungkinkan. Jika memiliki donor berusia 19 tahun dan memiliki banyak pasangan, kita harus memberitahu penerima bahwa ini adalah organ yang berisiko tinggi," kata Giacoma.

Penghitungan pasangan seksual ini adalah sebagian dari seperangkat pedoman baru yang lebih luas untuk memperbarui kebijakan Dinas Kesehatan tahun 1994 dalam mencegah penularan HIV melalui jaringan dan organ manusia.

"Prioritas kami di sini adalah keselamatan pasien. Pedoman baru ini menjelaskan mengenai peningkatan risiko, bukan risiko tinggi terinfeksi. Dan pasien harus tahu jika mereka mendapatkan organ yang beresiko tinggi," kata Kuehnert.

"Saya menentang pedoman ini. Daftar orang dengan perilaku berisiko tinggi tampaknya terlalu luas," kata Dr. John Radomski, kepala bagian bedah di Our Lady of Lourdes Medical Center di Camden, NJ.

Pejabat CDC mengatakan bahwa usulan tersebut adalah masih berupa draft dan dapat diubah, terutama jika ada bukti kuat yang mendukung perubahan. CDC mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang transplantasi organ, baik yang berasal dari sejarah pribadi atau tes lanjutan.